06 November 2010

Fenomena Gunung Merapi

TEMPO Interaktif, Magelang: Semburan wedhus gembel (awan panas) yang muncul akibat letusan Gunung Merapi pada pukul 10.02, mencapai ketinggian 1 kilometer. Semburan awan panas yang mirip cendawan itu juga terlihat dari Muntilan. “Ini pertama kalinya terlihat dari sini,” kata seorang warga Muntilan, Senin (1/11).

Fenomena Merapi itu akhirnya menjadi tontonan warga. Bahkan siswa-siswa di ke luar dari ruang kelas untuk meyaksikan fenomena itu. Banyak dari mereka yang berusaha mengabadikan luncuran awan panas itu dengan menggunakan kamera digital maupun telepon genggam.

Kemuncul wedhus gembel kali ini memang cukup besar di banding hari-hari sebelumnya. Apalagi sekarang udara cerah sehingga puncak Merapi dapat terlihat dengan jelas.

Situasi berbeda terjadi di sejumlah desa di wilayah Magelang yang berada di lereng Merapi. Kepanikan terlihat menyergap penduduk karena awan panas mengarah ke tempat tinggal mereka. “Wedhus Gembel mengarah ke Kali Blongkeng di Srumbung,” kata Ceguk, 35 tahun, warga Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun. Dari desanya, kata Ceguk, puncak Merapi hanya berjarak sekitar 8 kilometer.

Melihat pergerakan awan panas itu, warga berhamburan melarikan diri menjauhi gunung. Mereka kabur dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Sebelum letusan, warga meninggalkan tempat pengungsian untuk menengok rumah mereka.

ANANG ZAKARIA

sumber : tempo interaktif 

12 Oktober 2010

Fenomena Halo Matahari

Lintas Berita, Halo Matahari adalah fenomena yang terjadi ketika kristal-kristal air yang dibawa oleh awan cirrus lalu dibiaskan oleh sinar matahari dengan sudut yang tepat sehingga membentuk warna-warni pelangi. Banyak sekali faktor yang bisa membuat fenomena seperti ini terjadi. Ketika fenomena optik terjadi, awan cirrus yang berada di sekitar matahari memiliki ketinggian dasar mencapai 9.000 meter. Dengan jumlah ketinggian tersebut, volume kristal-kristal air yang dibawa sangat banyak.

Dengan volume kristal yang banyak, posisi sudut yang tepat antara awan cirrus dan matahari serta cuaca yang cerah bisa membuat halo matahari terbentuk. halo matahari merupakan fenomena alam yang menarik dan tidak akan tidak berdampak pada kehidupan manusia secara siginfikan.

Seperti yang mengagetkan warga bogor dan juga bandung pada Selasa (12/10) siang, sekitar pukul 11.00 WIB hingga 13.00 WIB. ketika di tengah siang bolong yang terik dan langit yang biru cerah tanpa awan tiba-tiba dihiasi lingkaran warna-warni pelangi. fenomena alam yang langka itu pun menjadi perhatian warga. Banyak yang menyempatkan diri mendongakkan kepala ke langit untuk melihatnya. Bahkan, sebagian warga tampak berkerumun untuk menonton bersama di sejumlah sudut Kota Bogor, seperti di depan ruko-ruko, di terminal, dan di pinggir jalan.

TANJUNGPANDAN, POS BELITUNG - Fenomena alam di langit Tanjungpandan, Belitung, Selasa (12/10) siang mengundang perhatian warga. Matahari dikelilingi lingkaran besar menyerupai cincin. Fenomena alam berlangsung sekitar setengah jam antara pukul 10.30 hingga pukul 10.55 WIB.

Sinar matahai tidak begitu menyengat. Sekitar matahari tampak awan kehitam-hitaman. Lalu dikelilingi cahaya dengan warna seperti pelangi. "Sudah sering terjadi seperti itu. Saya sudah tiga kali melihat matahari bercincin di sini," kata Teja Pramana warga Tanjungpandan.

Pemandangan berbeda ini juga terlihat di langit Tanjungpandan, Sabtu (17/4/2010). Fenomena yang oleh para ahli disebut efek halo ini terjadi pada siang hari. Lingkaran yang mengelilingi matahari itu berwarna-warni seperti pelangi. Meski tak terbentuk sempurna. Efek halo pada matahari terjadi saat cuaca cerah.

Tak tampak ada awan mendung di sekitar matahari itu. Yang terlihat hanyalah gumpalan awan seputih kapas dan awan tipis berwarna putih seperti sedang tersapu angin. Langit pun berwarna biru cerah.

Banyak masyarakat yang ikut menyaksikan fenomena alam itu. Mereka mengabadikannya dengan kamera digital. "Saya baru kali ini melihat langusng matahari bercincin," ujar Fenny fotografer sebuah harian di Bangka yang datang ke Tanjungpandan dalam rangka Sail Indonesia 2010.

Metrotvnews.com, Bandung: Fenomena halo alias  lingkaran atau berkas sinar sekeliling benda angkasa nan berkilauan dari matahari terlihat di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/10) siang. Kejadian alam menakjubkan itu menunjukkan pelangi mengitari matahari.

Fenomena halo terjadi tepatnya sekitar pukul 11.00 hingga 14.00 WIB. Ketika matahari tegak lurus di atas kepala, rangkaian warna me-ji-ku-hi-bi-ni-u terlihat sangat indah. Menurut Kepala Staf Penelitian Bosscha, Evans (32), kristal atau uap air di awan terkena sinar matahari. Pembiasan warna pun terjadi menyerupai pelangi

Dijelaskan Evans, pembiasan seperti itu dinamakan pula refraksi. Ia menekankan kejadian alam tersebut sama sekali tak ada kaitannya dengan bencana atau hal-hal lain. Kemunculan halo hanyalah fenomena biasa dan memang sering terjadi. (Asep Kurnia/*****)

04 Oktober 2010

Fenomena lorong cahaya jelang kematian

Cahaya
LONDON, KOMPAS.com — Mereka yang punya pengalaman mendekati kematian kerap kali bercerita melihat sinar yang sangat terang atau berjalan melintasi lorong cahaya sebelum akhirnya mereka tersadar dan kembali ke dunia nyata. Fenomena yang masih diselimuti kabut misteri itu mulai sedikit terkuak.

Satu dari 10 pasien penyakit jantung yang mendapat serangan jantung dilaporkan sering mengalami fenomena cahaya atau merasakan rasa damai dan ketenangan yang luar biasa.

Para ahli dalam laporannya di jurnal Critical Care mengatakan, fenomena cahaya tersebut diduga berasal dari karbondioksida. Hasil uji pada 52 pasien penyakit jantung didapati bahwa kadar gas buang gas dalam tubuh orang yang hampir meninggal rata-rata lebih tinggi dari 11.

Pengalaman bersentuhan dengan "dunia sana" itu, menurut para ahli, disebabkan karena matinya sel-sel otak akibat kekurangan oksigen (anoxia). Pendapat lain menyebutkan, hal itu terjadi karena tingginya kadar karbondioksida dalam tubuh orang yang hampir mati.

Studi sebelumnya menemukan bahwa pemberian napas bantuan dengan karbondioksida bisa menimbulkan rasa halusinasi yang mirip dengan pengalaman orang-orang yang mati suri tersebut. Studi lain menyebutkan, efek pembiusan dalam operasi juga bisa menimbulkan halusinasi.

Namun, belum diketahui mengapa dalam tubuh pasien serangan jantung terdapat kadar karbondioksida yang tinggi. "Ini adalah bagian lain dari teka-teki yang harus dipecahkan," kata Zalika Klemenc-Ketis, salah seorang peneliti.

Ahli jantung Dr Pim van Lommel, yang juga pernah mengalami mati suri, mengatakan, fenomena cahaya adalah misteri besar dalam hidup manusia. "Sampai saat ini belum ada kajian ilmiah yang bisa menjelaskannya secara memuaskan," katanya.

sumber : Kompas